Back

121 TAHUN SYARIKAT ISLAM INDONESIA (PSII) 1905-2026

Oleh: Zulhadi Ariza Ketua Umum PP Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI)

Milad Bukan Sekadar Perayaan Sejarah

Pada 16 Oktober 2026, Syarikat Islam Indonesia memasuki usia 121 tahun sejak kelahiran Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober 1905. Sebuah perjalanan panjang yang melintasi zaman kolonial, pergolakan kebangsaan, perjuangan kemerdekaan, perubahan sistem politik, hingga Indonesia kontemporer yang menghadapi tantangan globalisasi, ketimpangan ekonomi, krisis kepemimpinan, dan disrupsi teknologi. Perjalanan historis tersebut menempatkan Syarikat Islam Indonesia sebagai bagian penting dari sejarah kebangkitan umat Islam dan pertumbuhan kesadaran nasional Indonesia.

Namun, memperingati usia 121 tahun tidak seharusnya berhenti pada seremoni, pidato penghormatan kepada para pendiri, pemasangan spanduk, atau pengulangan kisah kejayaan masa lalu. Milad seharusnya menjadi ruang evaluasi yang jujur tentang hubungan antara sejarah dan kenyataan, antara cita-cita dan pencapaian, serta antara besarnya warisan perjuangan dan kemampuan generasi penerus menerjemahkannya menjadi kekuatan sosial yang nyata.

Bagi Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), milad Syarikat Islam Indonesia mempunyai makna yang jauh lebih mendasar. SEMMI tidak berdiri di luar sejarah Syarikat Islam Indonesia. SEMMI merupakan organisasi serumpun yang lahir dari kebutuhan gerakan untuk menyiapkan basis intelektual mahasiswa dan generasi muda sebagai penerus perjuangan. SEMMI diresmikan pada 2 April 1956, setelah Kongres Nasional PSII di Solo pada April 1955 mendorong pembentukan wadah mahasiswa sebagai lumbung kader intelektual masa depan.

Hubungan historis tersebut membawa konsekuensi ideologis. SEMMI tidak cukup hanya mewarisi nama besar, simbol, dan romantisme sejarah Syarikat Islam Indonesia. SEMMI harus mewarisi keberanian berpikir, keteguhan ideologi, kemampuan membaca perubahan zaman, dan kesediaan melakukan koreksi terhadap setiap keadaan yang menjauhkan gerakan dari tujuan perjuangannya.

Karena itu, pada usia ke-121 ini, pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan bukan sekadar seberapa panjang perjalanan Syarikat Islam Indonesia, melainkan seberapa jauh cita-cita perjuangannya telah diwujudkan dalam kehidupan umat dan bangsa.

Apakah umat semakin berdaya secara ekonomi? Apakah pendidikan telah menjadi jalan pembebasan? Apakah kaderisasi telah melahirkan pemimpin yang berintegritas dan berkemampuan? Apakah organisasi telah hadir sebagai kekuatan yang memengaruhi arah perubahan sosial? Dan yang paling penting, apakah Syarikat Islam Indonesia masih mempunyai daya untuk menjawab persoalan rakyat yang menjadi alasan historis kelahirannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk pengingkaran terhadap sejarah. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan penghormatan paling serius terhadap sejarah.

Sebab, organisasi yang sungguh-sungguh mencintai sejarahnya tidak akan menjadikan masa lalu sebagai tempat bersembunyi dari tanggung jawab hari ini.

I. Dari Sarekat Dagang Islam Menuju Gerakan Kebangsaan

Untuk memahami arti penting Milad ke-121 Syarikat Islam Indonesia, kita harus kembali kepada kondisi sosial-ekonomi masyarakat pribumi pada awal abad ke-20.

Pada masa itu, masyarakat bumiputra hidup di bawah struktur kolonial yang membatasi akses terhadap sumber daya ekonomi, pendidikan, kekuasaan, dan kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam struktur demikian, persoalan ekonomi bukan sekadar masalah keuntungan perdagangan. Ekonomi berkaitan dengan martabat manusia, kemampuan masyarakat mempertahankan kehidupannya, dan hak untuk terbebas dari ketergantungan.

Dalam konteks itulah Haji Samanhudi dan para saudagar Muslim membangun Sarekat Dagang Islam pada 1905. Organisasi tersebut bertolak dari kebutuhan konkret untuk memperkuat perdagangan pribumi Muslim, mempererat solidaritas, dan membangun kemampuan ekonomi di tengah struktur kolonial yang tidak setara. Dalam perkembangannya, gerakan ini meluas melampaui kepentingan perdagangan dan menjadi bagian dari kebangkitan sosial-politik masyarakat Indonesia.

Di sinilah letak pelajaran pertama yang harus terus dihidupkan.

Syarikat Islam Indonesia lahir bukan dari ruang kosong yang hanya dipenuhi perdebatan abstrak tentang agama dan kekuasaan. Ia lahir dari perjumpaan antara kesadaran keislaman dan kenyataan sosial yang menuntut perubahan.

Islam memberikan orientasi moral dan keyakinan. Realitas masyarakat menghadirkan persoalan yang harus diselesaikan. Organisasi menjadi instrumen untuk menghubungkan keyakinan dengan tindakan kolektif.

Dengan demikian, sejak awal, gerakan ini mengandung dimensi spiritual, ekonomi, sosial, dan politik sekaligus.

Islam tidak berhenti sebagai keyakinan pribadi. Ia menjadi sumber energi untuk membangun solidaritas, memperjuangkan keadilan, mengangkat martabat manusia, dan mengorganisasi masyarakat agar tidak terus-menerus menjadi korban ketimpangan.

Perkembangan berikutnya di bawah H.O.S. Tjokroaminoto semakin memperluas orientasi gerakan tersebut. Syarikat Islam berkembang menjadi kekuatan massa yang memainkan peranan penting dalam pembentukan kesadaran politik dan nasionalisme modern. Organisasi ini mempertemukan berbagai lapisan masyarakat, termasuk pedagang, petani, buruh, ulama, santri, dan kaum terpelajar dalam suatu ruang perjuangan yang semakin luas.

Artinya, kekuatan Syarikat Islam pada masa pertumbuhannya tidak hanya terletak pada jumlah anggota, tetapi juga pada kemampuannya mengubah persoalan individual menjadi kesadaran kolektif.

Persoalan seorang pedagang tidak lagi dipahami semata-mata sebagai kesulitan pribadi. Persoalan itu ditempatkan dalam struktur ekonomi yang lebih luas.

Ketidakberdayaan masyarakat tidak lagi dianggap sebagai nasib yang harus diterima. Ia dibaca sebagai keadaan yang dapat diubah melalui pendidikan, persatuan, pengorganisasian, dan perjuangan.

Inilah karakter yang membedakan gerakan dari sekadar perkumpulan.

Perkumpulan mempertemukan orang-orang yang mempunyai kepentingan serupa. Gerakan membangun kesadaran, merumuskan tujuan bersama, mengorganisasi kekuatan, dan melakukan intervensi terhadap kenyataan.

Warisan terbesar Syarikat Islam Indonesia, karena itu, bukan semata-mata usianya. Warisan terbesarnya adalah tradisi menghubungkan Islam dengan pembebasan manusia dari ketidakberdayaan.

II. H.O.S. Tjokroaminoto dan Gagasan Kemerdekaan yang Menyeluruh

Membicarakan Syarikat Islam Indonesia tanpa memahami pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto akan membuat kita kehilangan salah satu dimensi terpenting dari sejarah organisasi ini.

Tjokroaminoto bukan hanya seorang pemimpin organisasi. Ia merupakan tokoh pergerakan yang memahami bahwa kemerdekaan suatu bangsa tidak cukup diukur dari kemampuan mengibarkan bendera sendiri atau mengganti pemerintahan kolonial dengan pemerintahan nasional.

Kemerdekaan harus menyentuh kehidupan manusia secara menyeluruh.

Bangsa yang merdeka secara politik, tetapi rakyatnya tetap hidup dalam kemiskinan struktural, sesungguhnya masih menghadapi persoalan mendasar mengenai kebebasan. Masyarakat yang mempunyai hak memilih pemimpin, tetapi tidak mempunyai kemampuan menentukan arah kehidupannya karena tekanan ekonomi, juga belum menikmati kemerdekaan secara substantif.

Dalam perspektif ini, kemerdekaan bukan hanya peristiwa politik. Kemerdekaan merupakan proses panjang untuk membangun manusia dan masyarakat yang mempunyai kedaulatan atas kehidupannya.

Gagasan tersebut relevan dengan keadaan Indonesia hari ini.

Indonesia memang telah merdeka lebih dari delapan dekade. Kita mempunyai pemerintahan sendiri, lembaga perwakilan rakyat, sistem kepartaian, dan ruang partisipasi politik. Namun, berbagai persoalan mengenai ketimpangan penguasaan ekonomi, kualitas pendidikan, kesempatan kerja, akses terhadap sumber daya, dan distribusi kesejahteraan tetap menjadi pekerjaan besar.

Pertanyaannya, bagaimana kemerdekaan politik dapat diterjemahkan menjadi kemerdekaan ekonomi dan sosial bagi rakyat?

Pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi bagian dari agenda intelektual Syarikat Islam Indonesia dan SEMMI.

Kita tidak boleh menjadikan Tjokroaminoto sekadar tokoh yang namanya disebut dalam setiap peringatan milad. Kita harus menempatkan pemikirannya sebagai sumber inspirasi untuk membaca persoalan masa kini.

Jika dahulu gerakan menghadapi struktur kolonial yang membatasi kehidupan masyarakat pribumi, hari ini kita harus mampu mengidentifikasi struktur ketidakadilan yang menghambat kemandirian rakyat dalam sistem ekonomi dan politik modern.

Tentu saja, keadaan kolonial pada awal abad ke-20 tidak identik dengan keadaan Indonesia sekarang. Bentuk kekuasaan, hubungan ekonomi, dan struktur sosial telah berubah. Namun, kebutuhan untuk memperjuangkan keadilan, membangun kemandirian, dan melindungi martabat manusia tetap relevan.

Karena itu, memperingati Tjokroaminoto berarti berani meneruskan tradisi intelektualnya: mempelajari kenyataan, merumuskan gagasan, membangun organisasi, dan memperjuangkan perubahan.

Kita tidak boleh mengubah tokoh pergerakan menjadi monumen yang dihormati tetapi tidak lagi dibaca pemikirannya.

Sejarah harus menjadi tenaga penggerak, bukan tempat pelarian.

III. Islam sebagai Ideologi Pembebasan dan Tanggung Jawab Sosial

Salah satu persoalan mendasar gerakan Islam kontemporer adalah bagaimana memastikan bahwa nilai-nilai agama benar-benar hadir dalam penyelesaian masalah masyarakat.

Agama mempunyai dimensi spiritual yang sangat penting. Namun, spiritualitas tidak seharusnya dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Keimanan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, eksploitasi, atau ketidakberdayaan masyarakat.

Al-Qur’an mengajarkan:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”

(QS. Al-Isra’: 70)

Prinsip kemuliaan manusia ini memberikan dasar moral bagi perjuangan untuk menjaga martabat setiap orang. Manusia tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai alat produksi, angka statistik, objek politik, atau komoditas untuk kepentingan pihak yang lebih kuat.

Dalam perspektif SEMMI, Islam harus menjadi sumber etika dan orientasi perjuangan yang mendorong lahirnya masyarakat adil, berpengetahuan, mandiri, dan bermartabat.

Karena itu, perjuangan keislaman tidak dapat dibatasi pada penguatan simbol-simbol formal. Ia harus menjangkau persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan yang layak, kemandirian ekonomi, perlindungan kelompok rentan, dan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan publik.

Kita perlu mengajukan pertanyaan sederhana: apa makna kehadiran gerakan Islam bagi masyarakat kecil yang kesulitan memperoleh pekerjaan, bagi petani yang menghadapi ketidakpastian harga hasil panen, bagi buruh yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, bagi mahasiswa yang menghadapi mahalnya biaya pendidikan, dan bagi pengusaha kecil yang kesulitan mengakses pembiayaan?

Pertanyaan tersebut harus dijawab melalui kerja nyata, bukan hanya melalui pernyataan moral.

Islam sebagai ideologi perjuangan harus menghasilkan keberanian untuk berpihak kepada keadilan, kemampuan memahami akar persoalan, serta kesediaan membangun solusi yang terorganisasi.

Keberpihakan itu tidak berarti membenarkan semua tuntutan atas nama rakyat tanpa kajian. Sebaliknya, keberpihakan menuntut pengetahuan, ketelitian, integritas, dan kesanggupan membedakan kepentingan umum dari kepentingan kelompok tertentu.

SEMMI memandang bahwa tanggung jawab intelektual dan tanggung jawab moral harus berjalan bersama.

Mahasiswa Muslim tidak cukup hanya memahami teks keagamaan tanpa memahami kenyataan sosial. Sebaliknya, kemampuan membaca realitas juga harus dibimbing oleh etika agar perjuangan tidak kehilangan orientasi moral.

Di sinilah hubungan antara iman, ilmu, dan amal menjadi penting.

Iman memberikan arah. Ilmu membantu memahami persoalan. Amal mengubah pemahaman menjadi tindakan.

Tanpa iman, perjuangan berisiko kehilangan orientasi moral. Tanpa i

The full article is being collected. Available text is shown for now.

Back
Share this story

Get the daily newsletter →

Ask globalread.info

AI news & website helper
What would you like to explore?

I can find stories, explain headlines, or help you use globalread.info.

AI can make mistakes. Check the linked sources. Questions are sent to OpenAI.